Komentari

Berita Anggota Parlemen

NasDem Berjaya

sumber berita , 28-06-2018

AUDITORIUM DPP Partai NasDem di Jalan RP Soeroso No 46, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin, tampak diwarnai wajah-wajah semringah elite partai itu.

Sorak-sorai pun terdengar beberapa kali saat hasil hitung cepat (quick count) menunjukkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur yang diusung ataupun didukung Partai NasDem mengungguli lawan-lawan mereka di pilkada serentak 2018.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh bersyukur atas kemenangan 11 dari 17 pasangan calon gubernur- wakil gubernur itu.

Menurut dia, kemenangan itu merupakan salah satu modal untuk menyambut pesta demokrasi yang lebih besar, yakni Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. "Ini (kemenangan) ialah modal, tetapi bukan modal utama," tutur Surya seusai memantau hasil hitung cepat di Kantor DPP NasDem, kemarin.

Surya mengingatkan bahwa yang bisa membawa NasDem mencapai target untuk mencapai posisi tiga besar dalam Pemilu 2019 ke depan ialah tetap pada kinerja para kader dalam menyampaikan gagasan dan pikiran partai. Yang tak bisa dimungkiri, kata dia, ialah politik tanpa mahar.

"Di samping strategi, pikiran, kajian, pendekatan yang rasional, moralitas politik tanpa mahar ini turut memengaruhi hasil yang diperoleh partai," tukasnya.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan kemenangan NasDem dalam pilkada serentak ialah modal menuju pileg dan pilpres, terlebih menang di lumbung suara seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Namun, kata dia, NasDem harus menyusun program yang lebih detail sehingga bisa menyapu kemenangan signifikan pada dua perhelatan akbar itu. "Tidak bisa hanya mengandalkan sudah menang di pilkada, terus kemudian otomatis suara NasDem meningkat, jadi enggak bisa seperti itu. Harus ada program khusus ke depan," tandas Qodari.

Kekalahan PDIP

Pilkada serentak 2018 yang digelar di 171 daerah (17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten) kemarin berlangsung aman.

Dalam gelaran demokrasi itu, ada dua hal yang menarik, yakni kekalahan paslon PDI Perjuangan di sejumlah daerah dan munculnya kemenangan kotak kosong di pilwalkot Makassar, Sulawesi Selatan, berdasarkan hasil hitung cepat.

Kekalahan paslon dari partai banteng moncong putih dalam pilkada antara lain disebabkan figur yang tidak kuat. Namun, menurut Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan, hal itu tidak akan memengaruhi elektabilitas Presiden Joko Widodo. "Alasannya, secara umum semua figur calon kepala daerah yang berlaga dan memenangi pilkada dianggap dekat dengan Jokowi," ujarnya.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan kekalahan partainya di 11 pilgub tahun ini harus dievaluasi. "Evaluasi dari aspek strateginya, aspek komunikasi politiknya," kata Hasto di DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kemarin.

Di sisi lain, Direktur Riset Indikator Politik Indonesia Moh Adam Kamil menyatakan hasil Pilkada 2018 ini bisa menjadi gambaran konstelasi politik di 2019. "Wilayah Jawa sangat strategis pada Pilpres 2019 dengan cakupan hampir 50% dari pemilih nasional," katanya. 

Diposting 28-06-2018.

Maaf. Hanya User Konstituen yang bisa memberikan komentar.

Kamu mencari peraturan ?
148 ribu ++ peraturan
Temukan dalam 1 detik!

Dia dalam berita ini...

Prananda Surya Paloh

DPR-RI 2014
Sumatera Utara I