Siapa Caleg 2024 untuk DPR-RI/ DPD-RI/ DPRD Prov. dan DPRD Kab./Kota-mu? Cek di sini...

Berita Anggota Parlemen

DPR Desak Mendag Beberkan Syarat Impor Alkes

Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung mendesak Menteri Perdagangan Agus Suparmanto untuk mengungkap syarat impor alat kesehatan di Indonesia. Hal itu dimaksudkan sekaligus untuk membuka tudingan mafia impor alat kesehatan yang sempat disentil Menteri BUMN Erick Thohir.

"Saya sih melihat, selama ini bukan hanya alkes atau obat-obatan yang langka. Dari seluruh aktivitas perdagangan kita memang harus dibuka ya untuk pelaku-pelaku baru. Sehingga, jangan itu-itu terus (importirnya)," kata Martin dalam sebuah diskusi yang disiarkan oleh Medcom.id, Minggu (19/4).

Martin menduga selama ini banyak pengusaha yang tak ingin kedudukannya digeser sebagai importir alkes. Tak heran, barang alkes yang masuk ke Indonesia susah beredar. Oleh karena itu, ia usul agar pemerintah membuka data impor agar ketersediaan alkes.

"Hambatannya memang itu selalu adalah pemain lama yang tidak mau lapaknya diganggu. Karena itu, kepada Mendag saya bilang diumumkan saja secara terbuka," jelasnya.

"Kalau perlu bikin konpers, bahwa ini loh syarat-syaratnya. Silakan, siapa saja bisa memenuhi syarat ini untuk lakukan importasi. Itu akan buka lapangan dan informasi, sehingga publik bisa mengetahui," lanjut dia.

Pada waktu yang sama, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Lia Partakusuma membenarkan pihaknya sangat kesusahan untuk mendapatkan alkes terkhusus Alat Pelindung Diri (APD) dan masker N95. Padahal, alat tersebut sangat dibutuhkan oleh tenaga medis dalam menangani pasien yang terjangkit Corona.

"Memang yang kami rasakan dua bulan terakhir ini tidak mudah mendapatkan jumlah yang kami minta untuk kebutuhan rumah sakit. Yang paling repot, contohnya masker N95. Ini agak susah," terang dia.

Bahkan, kata Lia, antar rumah sakit saling berebut untuk melindungi tenaga medisnya. Tak hanya soal ketersediaan, Lia juga menyatakan banyak alkes yang memiliki harga yang tidak wajar dan membuat rumah sakit kesusahan dalam mengadakan alkes.

"Soalnya siapa yang bisa duluan langsung bayar dulu. Kalo RS kan kita agak repot ya. Sekarang ini RS harus seolah-olah siapkan uang cash (tunai). Satu lagi juga paling repot soal harga, harga ini kelihatannya bisa berlipat ganda tingginya," beber Lia.

Di samping kesusahan dalam mengadakan alkes, Lia mengaku masih banyak pihak yang sukarela memberikan bantuan alkes kepada rumah sakit. Sumbangan dari berbagai pihak menurutnya sangat membantu rumah sakit yang kesulitan mendapatkan alkes.

Terakhir, Ia berharap agar pemerintah bisa memenuhi ketersediaan alkes di Indonesia, sehingga bisa diadakan oleh rumah sakit.

"Kelihatannya menurut saya kebutuhan yang meningkat pesat itu yang menyebabkan tidak bisanya terpenuhi kebutuhan yang kita minta. Apalagi misalnya 'oh ini ga bisa cepat'. Kenapa?. 'Karena bahan bakunya di luar'. Ya sudah kalau sudah ngomong begitu kita bisa apa?" tandasnya.

Diposting 20-04-2020.

Dia dalam berita ini...

Martin Manurung

Anggota DPR-RI 2019-2024
Sumatera Utara 2