Berita Anggota Parlemen

DPR Desak Kemenhan dan TNI Investigasi Heli MI-17

KORBAN meninggal dunia heli M-17 yang jatuh di Kendal, Jawa Tengah, bertambah menjadi lima orang setelah Lettu CPN Vira Yudha meninggal dunia usai menjalani perawatan di RS Dr. Kariadi Semarang. Almarhum meninggalkan seorang istri dan anak yang masih balita. Anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Lettu Vira Yudha serta empat korban lainnya. Dia mendesak TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk memperdalam investigasi jatuhnya heli jenis MI-17 buatan Rusia ini. 

"Kami sampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Lettu Vira Yudha dan empat lainnya. Semoga keluarga para korban diberi kekuatan. Masih ada empat korban lain  dalam perawatan dan harus benar-benar diperhatikan. Kejadian ini sangat penting untuk di investigasi mendalam penyebabnya," ucapnya dalam keterangan resmi, Senin (15/6). 

Politisi Partai NasDem ini mengatakan Kemenhan dan TNI perlu memberi perhatian kepada keluarga korban heli jatuh. Selain berkenaan dengan penyelidikan atas jatuhnya heli asal Rusia. Menurutnya, para korban merupakan harapan keluarga yang telah mendedikasikan hidupnya bagi negara. 

"Setiap Anggota TNI yang sakit dan meninggal dalam tugas harus menjadi perhatian institusi. Mereka bekerja untuk negara ini. Bagi korban meninggal maka selayaknya negara memberi perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan. Selain soal asuransi, perlu juga Kemenhan dan TNI memikirkan mekanisme untuk memberi kompensasi yang layak bagi keluarga korban," tegasnya. 

Lebih jauh Willy menegaskan perlunya merevitalisasi program jaminan asuransi bagi para anggota TNI, pensiunan dan keanggota keluarganya. Dia mengatakan Asabri yang beberapa waktu lalu dihebohkan dengan adanya dugaan korupsi pengelolaan dananya perlu direvitalisasi agar menghadirkan jaminan layanan terbaik bagi TNI. 

"Setelah Juli 2015, Asabri memiliki layanan yang cukup lengkap seperti layanan BPJS ditambah perumahan bahkan hingga pinjaman polis. Tapi kalau dilihat bagaimana nasib ahli waris yang ditinggalkan ini cukup menyedihkan. Nilai Rp15 Juta bantuan pendidikan dibayar sekaligus itu kecil sekali nilainya. Begitu juga dengan santunan kematian yang hanya Rp17 Juta. Tidak cukup itu semua. Kemenhan dan TNI perlu mencari mekanisme terbaik agar para prajurit bisa konsentrasi bertugas tanpa takut jika terjadi sesuatu terhadap keluarganya jika mereka gugur di medan tugas," ungkapnya. 

Legislator Dapil Jatim XI ini meminta Kementerian Pertahanan dan TNI untuk juga memperhatikan sumber daya manusia selain berkenaan dengan alutsista. 

"Kita perlu alutsista yang kuat, sama seperti kita perlu para prajurit yang bekerja dengan rasa aman dan nyaman. Karena dengan rasa aman dan nyaman inilah para prajurit bisa bekerja dengan penuh komitmen, dedikasi dan prestasi," pungkasnya. 

Pada Sabtu, (6/6), Heli milik TNI AD dengan nomor registrasi HA 5141 ini jatuh di Kendal, Jawa Tengah. Kecelakaan ini menyebabkan empat crew meninggal sedangkan lima luka-luka. Heli tersebut sedang melaksanakan misi latihan terbang di Pusat Pendidikan Penerbang AD, Semarang, Jawa Tengah, sebagai bagian dari program pendidikan calon Perwira Penerbang 1.

Sebelumnya heli dinyatakan dalam kondisi baik sebelum terbang, karena saat dilaksanakan pre-flight check tidak ditemukan hal-hal menonjol. Korban meninggal adalah Kapten Cpn Kadek, Kapten Cpn Fredi, Kapten Cpn Y Hendro dan Lettu Cpn Wisnu, dan Lettu Cpn Vira Yudha. Sedangkan korban luka-luka Praka Nanang, Praka Rofiq, Praka Supriyanto dan Praka Andi.

Diposting 15-06-2020.

Maaf. Hanya User Konstituen yang bisa memberikan komentar.

Dia dalam berita ini...

Willy Aditya

Anggota DPR-RI 2019-2024
Jawa Timur 11