Protes warga RT 06 RW V Perumahan Bumi Wanamukti, Kelurahan Sambiroto, Tembalang, Semarang, terhadap instalasi insinerator RSUD Kota Semarang (RSUD Ketileng, Red) mendapat respon.
Kemarin (17/1), Komisi D DPRD Kota Semarang meninjau fasilitas yang dikeluhkan warga. Hasilnya, Komisi D meminta agar pihak RSUD Kota segera memperbaiki insinerator agar tidak mencemari perumahan yang berada di belakang RSUD tersebut.
Dalam surat protes yang dikirim ke DPRD Kota tanggal 15 November 2010, Ketua RT 06 RW V P Susilotomo KS menuturkan, saat pembakaran limbah RS dalam insinerator terlihat asam hitam dari cerobong dan turun di permukiman warga.
’’Padahal asap itu baunya tajam menyengat dan membuat sesak pernapasan,” keluhnya.
Tentu saja, hal tersebut sangat mengganggu warga, terutama di RT 06 RW V yang berada di dekat RSUD.
Dia menambahkan, insinerasi limbah medis adalah sumber utama zat dioksin yang sangat berbahaya.
’’Dioksin dikenal sebagai penyebab kanker, pengacau sistem hormonal, sehingga menimbulkan efek negatif terhadap reproduksi, kami anggap sangat membahayakan terutama kesehatan anak-anak," jelasnya.
Pihaknya berharap agar pihak RSUD mau memperbaiki insinerator sehingga tidak mencemari warga.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Sugi Hartono mengatakan, dari hasil sidak kemarin, pihaknya meminta agar RSUD segera melakukan perbaikan instalasi insinerator.
’’Pertama adalah cerobong asap, saat ini tingginya cuma 5 meter, mestinya bisa ditinggikan paling tidak tambah 5 meter lagi sehingga mencapai 10 meter,” katanya.
Dengan begitu, diharapkan asap hitam tidak mencemari lingkungan sekitar. Selain itu, tambah dia, kapasitas insinerator yang saat ini hanya 30 kg agar ditingkatkan sehubungan dengan makin berkembangnya RSUD Kota Semarang. ’’Mungkin dulu saat RSUD masih tipe C, kapasitas tersebut masih mencukupi. Tapi, sekarang kan sudah berkembang, mestinya kapasitasnya ditambahi," ujar Sugi Hartono.
Mengenai sumber bau, lanjut dia, solusinya adalah dengan mengganti bahan bakar. Saat ini, bahan bakar yang digunakan adalah solar. ’’Kalau menggunakan minyak tanah tentu asapnya tidak hitam dan tidak bau," katanya.
Pihak RSUD sendiri berkilah, mereka terpaksa menggunakan solar karena sulit mendapatkan minyak tanah. Kalaupun ada, harganya mahal. Selain itu, Sugi Hartono juga meminta agar seel insinerator segera diganti karena sudah rusak sehingga menimbulkan kebocoran. Akibat seel insenerator rusak, sisa pembakaran menyebar kemana-mana, termasuk ke permukiman warga.
’’Kalau tidak rusak kan masuk ke cerobong asap, sehingga tidak mencemari warga," ujarnya. Pihak RSUD sendiri berjanji akan segera memperbaiki insenerator yang dikeluhkan tersebut. Hanya saja, perbaikan seperti yang disampaikan oleh Komisi D DPRD Kota akan dilaksanakan setelah dilakukan penelitian lebih lanjut.