Anggota Komisi I DPR RI Elita Budiati menekankan pentingnya transformasi pendidikan kavaleri agar selaras dengan perkembangan teknologi pertahanan global. Pasalnya, ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini tidak lagi sebatas perang konvensional, melainkan telah bergeser ke perang asimetris yang berbasis digital, siber, hingga kecerdasan buatan (AI).
Hal tersebut disampaikannya saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi I DPR RI ke Pusat Pendidikan Kavaleri di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau langsung fasilitas pendidikan sekaligus melihat berbagai kemampuan yang dimiliki satu-satunya pusat pendidikan kavaleri di Indonesia itu.
Pun, dirinya mengapresiasi peran strategis Pusdikkav dalam mencetak prajurit kavaleri. Namun, ia menilai lembaga pendidikan militer tersebut perlu terus beradaptasi agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi yang kini menjadi faktor penting dalam sistem pertahanan modern.
"Perang sekarang itu kita menghadapi bukan perang tradisional seperti dulu, perang konvensional. Tetapi sekarang kita sedang menghadapi perang asimetris yang berbasis digital. Jadi banyaknya pasukan harus sebanding dengan kemampuan IT, pengetahuan, dan pengalaman mereka," ujar Elita Budiati kepada Parlementaria usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi I DPR RI di Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav), Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (02/06/2026).
Dalam sesi pendalaman, Elita juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung pelatihan teknologi modern di lingkungan Pusdikkav. Ia mengungkapkan bahwa pelatihan terkait sistem nirawak masih dilakukan melalui simulasi karena belum tersedianya perangkat drone yang memadai.
"Mereka belum punya drone, belum punya nirawak. Jadi, semua pelatihan itu dilakukan hanya memakai simulasi saja. Itu agak sedikit mengkhawatirkan," katanya.
Menurut Elita, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena Pusdikkav diharapkan mampu mencetak prajurit yang profesional, responsif, adaptif, objektif, inovatif, fleksibel, bertakwa, dan tangguh sesuai visi institusi.
Legislator Dapil Jawa Barat ini menegaskan bahwa Doktrin Tri Daya Cakti yang menjadi dasar Korps Kavaleri tetap penting dipertahankan. Namun, terangnya, implementasinya harus disesuaikan dengan perkembangan zaman agar mampu menjawab tantangan pertahanan masa kini.
"Adaptif itu berarti dia harus menyesuaikan dengan kondisi dunia sekarang. Karena sekarang bukan konvensional lagi. Orang sudah berpikir tentang balistik, rudal antarbenua, perang hybrid, perang teknologi, perang cyber, dan perang AI," tegasnya.
Elita mengingatkan bahwa modernisasi kurikulum menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Menurutnya, pendidikan militer harus mampu mengintegrasikan penguasaan teknologi, sistem digital, dan kemampuan analisis modern tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar keprajuritan.
Ia menilai Indonesia harus belajar dari perkembangan global, di mana kekuatan pertahanan kini semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi canggih, termasuk drone, sistem nirawak, kecerdasan buatan, hingga kemampuan siber. "Kalau pusat pendidikan masih menerapkan kurikulum yang tetap itu-itu saja, tidak adaptif dan tidak inovatif, kita akan keteteran. Negara kita besar, jumlah penduduk besar, pasukan juga besar, tetapi perang sekarang banyak dimainkan melalui teknologi," ujarnya.
Oleh karena itu, Politisi Fraksi Partai Golkar ini berharap hasil kunjungan Komisi I DPR RI dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sarana, prasarana, serta kurikulum pendidikan di Pusdikkav. Dengan demikian, Indonesia dapat memiliki prajurit kavaleri yang tidak hanya unggul dalam operasi konvensional, tetapi juga siap menghadapi dinamika perang modern yang semakin kompleks.
"Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan. Jangan sampai negara lain sudah berbicara tentang balistik dan rudal antarbenua, sementara kita belum menyiapkan kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi perang masa depan," pungkasnya.