Anggota Komisi VII DPR RI Maria Lestari mendorong Kementerian Perindustrian memperkuat dukungan teknologi pasca panen bagi petani kopi di berbagai daerah. Menurutnya, potensi kopi Indonesia yang telah dikenal di pasar dunia harus diikuti peningkatan kualitas produksi, kompetensi sumber daya manusia (SDM), dan penguasaan teknologi dari hulu hingga hilir.
“Kami berpesan agar Kementerian Perindustrian juga mempunyai teknologi pascapanen untuk para petani, khususnya yang berhubungan dengan pertanian,” kata Maria saat mengunjungi pabrik kopi Kapal Api di Semarang, Jumat (4/9/2026), bersama jajaran Kementerian Perindustrian. Ia menilai penguatan industri kopi nasional tidak cukup hanya mengandalkan besarnya potensi komoditas, tetapi harus dibarengi intervensi teknologi dan pembinaan kepada petani.
Menurut legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Barat I tersebut, Indonesia memiliki sentra-sentra kopi yang produknya telah dikenal luas hingga pasar internasional. Potensi itu harus dimanfaatkan secara optimal dengan meningkatkan kualitas kopi sejak proses pembibitan, budidaya, hingga pengolahan pascapanen.
Ia menekankan pentingnya ketersediaan SDM yang kompeten serta teknologi pertanian yang mampu mendukung peningkatan mutu produk. Tanpa penguatan di sektor tersebut, potensi kopi daerah dinilai belum akan memberikan nilai tambah maksimal bagi petani.
“Harus ada SDM, terus harus ada teknologi pertanian yang baik, dan tentunya kualitas produk itu harus ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Maria juga mendorong penguatan kolaborasi antara industri kopi dengan pelaku usaha lokal, khususnya UMKM. Ia menilai keterlibatan industri dan pasar lokal dapat membuka peluang yang lebih besar bagi petani kopi untuk meningkatkan pendapatan.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari berkembangnya usaha kedai kopi di berbagai daerah. Produk yang ditawarkan mayoritas berbasis kopi, sehingga menjadi peluang bagi kopi lokal untuk masuk dan berkembang di pasar daerah.
“Dengan produk lokal itu bisa memberikan harapan kepada petani kopi kita. Ini berdampak lebih besar dan tentunya bisa memberikan sumber pendapatan,” kata Maria.
Khusus di Kalimantan Barat, Maria mengakui industri kopi belum berkembang sebesar daerah sentra kopi lainnya. Namun, pertumbuhan UMKM dan usaha kedai kopi di daerah tersebut dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekosistem kopi lokal.
Karena itu, ia meminta Kementerian Perindustrian meningkatkan pembinaan melalui bimbingan teknis (Bimtek) dan pengembangan kompetensi SDM. Pembinaan tersebut harus mencakup seluruh proses produksi, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga peningkatan mutu produk.
“Bagaimana cara pembibitannya, mengolahnya, karena tentunya itu harus bersinergi, harus bersamaan,” tegasnya.
Politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini menilai pengembangan industri kopi nasional membutuhkan sinergi antara pemerintah, petani, industri, dan UMKM. Menurutnya, penguatan teknologi pascapanen dan kualitas SDM harus berjalan beriringan agar kopi Indonesia tidak hanya dikenal sebagai komoditas unggulan, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
“Potensi kopi kita sudah mendunia. Sekarang bagaimana potensi itu kita gunakan dengan baik sehingga manfaat ekonominya benar-benar dirasakan petani dan pelaku usaha lokal,” pungkas Maria.