Komisi VIII DPR RI meminta pengelola Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo, Jawa Tengah, terus mengevaluasi pola pengasuhan dan pembinaan siswa selama tinggal di asrama. Evaluasi diperlukan untuk menemukan metode adaptasi yang lebih efektif sehingga siswa dapat lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah berasrama.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko mengatakan, perpindahan anak dari lingkungan keluarga menuju kehidupan mandiri di asrama membutuhkan pendekatan pengasuhan yang lebih halus, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
"Penyesuaian adaptasi siswa masih harus dicarikan metode yang lebih baik lagi ke depan. Adanya anak yang kurang kerasan menandakan ada hal-hal yang perlu diperbaiki metodenya, sehingga anak-anak yang masuk ke depan bisa lebih kerasan lagi tinggal di asrama," kata Singgih saat memimpin peninjauan di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, proses adaptasi menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat karena siswa tidak hanya mengikuti kegiatan pembelajaran, tetapi juga menjalani pola kehidupan berasrama yang berbeda dengan lingkungan keluarga.
Di sisi lain, Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah V itu mengapresiasi kualitas fisik bangunan sekolah dan asrama yang telah dibangun pemerintah. Namun, ia menilai sejumlah fasilitas penunjang pembelajaran, seperti laboratorium, masih perlu dilengkapi agar proses pendidikan dapat berjalan lebih optimal.
"Secara fisik bangunan kelas dan fasilitas sudah sangat baik, termasuk istimewa. Tapi untuk peralatan-peralatan memang belum lengkap semua, seperti laboratorium yang masih kurang. Kami berharap dalam waktu dekat fasilitas pendukung ini bisa segera dilengkapi secara menyeluruh," ujarnya.
Singgih juga menilai besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk operasional Sekolah Rakyat perlu dilihat dalam konteks investasi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Menurutnya, pembangunan sarana dan prasarana yang telah direalisasikan menunjukkan bahwa program tersebut memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat pendidikan dalam jangka panjang.
"Anggaran operasional Sekolah Rakyat ini memang cukup besar, hampir Rp5 triliun lebih. Namun kalau kita lihat hasilnya dari kunjungan hari ini, sarana fisik yang terbangun sangat sepadan dengan investasi pendidikan bagi anak-anak kurang mampu," pungkasnya.