Politisi Partai Gerindra, Martin Hutabarat, mengapresiasi kehadiran Presiden SBY menjenguk aktivis Indonusia Corruption Watch, Tama Satrya Langkun, di Rumah Sakit Asri, Jakarta Selatan. Menurut dia ada dua sinyal Presiden untuk Kapolri dalam hal ini.
"Presiden memberi sinyal kepada Kapolri bahwa pertama Kepolisian harus memberikan laporan secara transparan kepada publik atas laporan masyarakat mengenai rekening perwira Polri," kata Martin saat dihubungi Jurnalparlemen.com, Sabtu (10/7).
Kedua, lanjut dia, Presiden meminta Kepolisian terus melanjutkan reformasi Polri berjalan pada jalur penegakan hukum. Menurut politisi asal Batak ini, langkah SBY tersebut menunjukkan bahwa komitmen untuk mendukung dan mewujudkan pemerintahan yang bersih masih dilaksanakan.
"Masyarakat meminta Kepolisian agar mengusut pelaku tindak kekerasan. Apalagi Presiden mendatangi langsung pelapor itu. Ini menunjukkan Presiden memenuhi janjinya," ucap Martin yang juga anggota Komisi III DPR RI ini.
Martin mengatakan mengapa Polri perlu segera memberikan penjelasan terkait peristiwa itu. "Jangan sampai ada kesan seolah peristiwa pelemparan molotov di kantor TEMPO dan penganiayaan terhadap Tama dilakukan oleh Polri. Sebab sampai kini belum jelas dilakukan Polri atau bukan," terang dia.
Pihaknya menduga bisa saja ada pihak ketiga yang mencari keuntungan atas rentetan peristiwa tersebut. Misalnya saja, sambung dia, institusi saingan Polri, oknum di internal Polri yang hendak maju dalam bursa calon Kapolri atau bahkan saudara maupun rekan si aktifis sendiri. "Ini semua bisa terjawab tuntas, kalau Polisi sigap untuk mengusutnya," tandas dia.
Martin juga menambahkan bahwa wajar bila Masyarakat resah. Sebab kejadian ini berawal dari heboh di sekitar harta kekayaan atau rekening para perwira Polri yang luar biasa. "Wajar kalau ini membuat Masyarakat bertanya-tanya," pungkas dia.