Maraknya tawuran di kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi bukti bila kebijakan pendidikan yang ada selama ini gagal. Hal itu dikatakan anggota Komisi X DPR Rohmani, menanggapi maraknya tawuran pelajar akhir-akhir ini.
Kata Rohmani, kebijakan pendidikan yang selama ini dibangun pemerintah terlalu berorientasi pada nilai atau akademik semata. Semua potensi pendidikan diarahkan untuk mengejar nilai ujian.
"Tawuran yang ada saat ini adalah buah dari kebijakan pendidikan berorientasi pada score test. Sekarang kita memetik kebijakan yang selama ini dibuat pemerintah," ujar Rohmani dalam rilisnya, Jumat (28/9).
Rohmani menambahkan, anak didik yang lemah secara akademik akan termarjinalkan oleh sistem yang ada saat ini. Anak yang gagal Ujian Nasional (UN) dicap sebagai siswa yang bodoh. Seharusnya pendidikan tidak memberikan stempel pintar atau bodoh. Kesuksesan pendidikan tidak sebatas akademik.
"Ujian nasional patut dievaluasi karena telah melahirkan pelajar yang seperti ini. Tidak membangun karakter anak didik. Seharusnya pendidikan mengedepankan pendidikan karakter," kata anggota DPR Dapil Jawa Tengah IX ini.
Untuk itu Rohmani meminta kepada pemerintah dan masyarakat jangan sepenuhnya menyalahkan anak-anak yang tawuran. Pemerintah harus berani mengoreksi kebijakan yang selama ini mereka buat. Justru anak-anak yang tawuran adalah korban kebijakan pendidikan yang keliru.