Berita Anggota Parlemen

Memprihatinkan, 'Batik Cina' Gempur Pasar Indonesia

Memprihatinkan. Serbuan produk China pada saat ini tidak lagi hanya sebatas beragam perkakas rumah tangga, mainan, piranti elektronik hingga sepeda motor saja, tetapi juga sudah merambah batik. Batik China dengan harga yang murah tetapi kualitasnya rendah membanjiri pasar Indonesia tanpa ada upaya serius membendungnya.

Menurut anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PAN, A Muhajir, sebenarnya batik impor dari China tersebut bukanlah batik dalam arti sesungguhnya karena itu hanya tekstil yang bermotif batik saja. “Karenanya walaupun harganya murah, namun kualitasnya buruk sehingga sangat merugikan konsumen serta sektor industri tekstil nasional,” ujarnya.

Batik printing asal China itu, kata Muhajir, diproduksi dengan menggunakan mesin tanpa keterampilan dari manusia. Sangat berbeda jauh dengan “Batik Garutan” yang mulai menggeliat saat ini atau batik-batik nusantara lainnya yang punya corak dengan makna mendalam serta proses pembuatannya yang unik sehingga terjamin kualitasnya.

Legislator dari dapil Garut dan Tasik itu menuturkan bahwa serbuan batik-batik impor khususnya dari China dengan harga jauh yang lebih murah itu sudah semakin membanjiri pasar-pasar di Indonesia sehingga perlahan tapi pasti bakal menggusur batik asli buatan Indonesia, para perajinnya serta UMKM yang bergerak di sektor itu.

Menurut catatan BPS, sepanjang 2012, impor batik dari China mencapai 1.037 ton dengan nilai US$ 30 juta atau sekitar Rp 285 miliar. Impor terbesar adalah batik mekanik dengan jumlah 677,4 ton dengan nilai US$ 23,3 juta. Batik mekanik adalah batik cap yang dikerjakan dengan mesin.

Selain volumenya besar, batik asal China ini harganya jauh lebih murah dibandingkan batik lokal. Selisih harganya bisa mencapai Rp 20–30 ribu per helai. Untuk batik batik cap berbahan katun, misalnya, di tanah Abang, batik China ini dijual Rp 70 ribu per helai. Sementara batik sejenis buatan Pekalongan Jawa Tengah harganya Rp 100 ribu.

Kondisi seperti itu tentunya sangat memprihatinkan dan pemerintah seharusnya lebih protektif menjaga produk domestik khas Indonesia itu, karena batik merupakan produk tradisional Indonesia yang sudah diakui secara luas di mancanegara. “Kalau tidak ada perlindungan sama sekali dari pemerintah terhadap para perajin batik maupun UMKM yang bergerak di sektor itu, sudah pasti tamat riwayatnya batik Indonesia itu. Pasti terpuruk,” ujarnya.

Oleh karena itu, ujar Muhajir, harus ada upaya kongkrit litas kementerian, terutama Kementerian Perindustrian, Kementerian koperasi dan UKM serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama gerakan
batik Indonesia. Pemerintah diharapkan kedepannya membuat lagi program pro rakyat, khususnya memasyarakatkan dan memproteksi batik lokal.

“Memang Indonesia dengan jumlah penduduknya yang besar itu menjadi pasar yang sangat potensial. Tapi juga jangan sampai batik kita sampai terpuruk di rumah sendiri,” ujarnya seraya menambahkan upaya yang harus segera dilakukan adalah impor batik harus dikendalikan dan bila perlu dikenakan bea masuk yang tinggi sehingga batik lokal bisa bersaing di pasaran.

Selain itu, berikan kemudahan untuk permodalan dari bank, baik itu swasta maupun bank milik BUMN kapada UMKM untuk mengembangkan produk batik mereka. Kemudian berikan pula edukasi kepada pengrajin batik baik untuk proses produksi hingga pemasarannya, semisal melalui pameran-pameran.

Diposting 13-05-2013.

Dia dalam berita ini...

A. Muhajir

DPR-RI 2009 Jawa Barat IX
Partai: PAN