Rekening gendut jenderal juga harus diusut

Ketua Komisi III Bidang Hukum DPR, Gede Pasek Swardika meminta kepolisian untuk mengusut kasus rekening gendut hingga ke tingkat jenderal. Sebab, kata dia, Aiptu Labora Sitorus tak bermain sendiri dalam melindungi sejumlah pengusaha untuk menimbun bahan bakar minyak (BBM).

"Pasti ada yang lain," kata Pasek di Gedung DPR, hari ini. Meski begitu, Pasek mengapresiasi langkah bersih-bersih di tubuh Polri.

"Lebih baik sekaligus dengan rekening jenderal. Mumpung ini lagi diproses," kata Pasek.

Pasek juga yakin, kasus seperti Aiptu Labora Sitorus ini tak hanya terjadi di Papua. "Kami dapat laporan di daerah khususnya tambang," kata dia.

Aiptu Labora diduga telah membantu sejumlah perusahaan dalam kasus illegal logging dan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) di Sorong. Sehingga, dia ditemukan memiliki transaksi keuangan senilai Rp 1,5 triliun.

Labora yang juga anggota Polres Sorong Papua Barat itu terendus Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memiliki transaksi triliunan itu selama lima tahun, sejak 2007.

Labora Sitorus pernah mengungkapkan, dirinya tidak terlibat dalam aksi penyalahgunaan BBM dan penyelundupan kayu ilegal. "Saya tidak terlibat, dan perusahaan itu bukan atas nama saya," kata dia.

Labora sudah ditangkap Mabes Polri, Sabtu lalu, setelah mengadu ke Komisi Kepolisian Nasional.

Sebelum ditangkap pada 18 Mei lalu, Aiptu Labora Sitorus sempat melaporkan kasusnya ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Kepada Kompolnas, anggota Polsek Raja Ampat itu mengaku salah satu transaksi dari rekeningnya mengalir ke atasannya di wilayah hukum Polda Papua.

"LS mengadukan seperti itu (aliran dana ke petinggi polisi), hanya membenarkan laporan itu. Makanya informasi itu akan kami klarifikasi ke dalam (Bareskrim Mabes Polri)," ujar salah satu anggota Kompolnas, Edi Saputra Hasibuan, saat mendatangi Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, hari ini.

Hal itu juga dibenarkan anggota Kompolnas lainnya, Hamidah Abdurahman. Saat diminta menyebut lebih spesifik atasan yang dimaksud Labora, keduanya mengklaim belum mengantongi identitas.

"Belum ada nama yang diberikan. Secara khusus tidak sebutkan nama. Namun dia (LS) memang pernah mengatakan," tambah Hamidah.

Dalam pertemuan nanti, Edi berharap Bareskrim menindaklanjuti pengakuan Labora. Kompolnas juga minta kasus ini diusut secara transparan.

"Untuk itu kami datang ke sini (Bareskrim) untuk klarifikasi informasi tersebut dan juga kami ingin proses hukum LS dilakukan secara profesional," jelasnya Hamidah.

"Kita juga minta Polri tangani secara transparan," timpal Edi.

Labora di Kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jalan Tirtayasa, tepat di depan kantor Kompolnas, Jakarta Selatan, Sabtu (18/5) sekitar pukul 20.00 WIB. Penangkapan dilakukan oleh tim penyidik Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) bersama Polda Papua.

"Penangkapan dilakukan di kompleks PTIK, saat ini yang bersangkutan sedang menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri. Hal ini terkait dengan proses penyidikan yang sudah berjalan terkait dugaan transaksi mencurigakan, penimbunan bahan bakar minyak (BBM) dan juga aktivitas pembalakan liar yang dilakukan perusahaan swasta PT SAW dan PT Rotua," ujar Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar.

Dia ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang. Setelah sempat ditahan di Rutan Bareskrim, kini Labora dipindahkan ke Polda Papua untuk mempermudah penyidikan.

Diposting 21-05-2013.

Dia dalam berita ini...

Gede Pasek Suardika

Anggota DPR-RI 2009-2014 Bali
Partai: Demokrat