Dalam proyeksi dan outlook energi 2015 yang dikeluarkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) diperkirakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) atau energi berasal dari tenaga nuklir seharusnya bisa masuk dalam penyediaan energi sebesar 2 Gigawatt tahun 2030.
Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT Adiarso memperkirakan tahun 2025 kontribusi energi baru terbarukan (EBT) 11,4 persen.
"Mau tidak mau nuklir harus masuk. Kepala BPPT mengungkapkan tahun 2031 kita sudah jadi net importir energi. Kondisinya kritis lampu kuning menuju lampu merah," katanya di sela-sela peluncuran buku Outlook Energi 2015 bertema Pengembangan Energi untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan, di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (3/11).
Menurutnya, bagi pakar yang berkecimpung di bidang energi, 15 tahun ke depan sangat cepat, sama artinya dengan besok pagi.
"Perlu dikejar potensi EBT, nuklir seharusnya masuk meski hanya 2-3 Gigawatt," ucapnya.
Ketua Komisi VII DPR Karyada Warnika berpandangan kondisi energi di Indonesia saat ini bukan krisis tapi kritis.
"Tahun 2019 cuma 3-4 tahun lagi, mengembangkan apa saja sudah telat kecuali EBT," ujarnya.
Ia berharap outlook energi ini bisa menjadi referensi. Data-data yang diungkap dalam outlook energi sangat penting.
Dalam outlook energi itu, BPPT memperkirakan tahun 2015-2019, peran batubara semakin meningkat sekitar 31 Gigawatt.
Adiarso berpandangan batubara akan menjadi andalan penyediaan energi nasional sehingga memerlukan kajian mendalam tentang dampak emisi lokal yang ditimbulkan.
Pembangkit listrik merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar sehingga perlu pemanfaatan teknologi yang efisien seperti clean coal technology, ultra super critical, serta pemanfaatan EBT.
"Pemanfaatan EBT perlu dimaksimalkan untuk memperlambat Indonesia menjadi negara net importir energi sepanjang keekonomiannya terpenuhi. Karenanya inovasi teknologi EBT menjadi penting dan mendesak," tuturnya.
Ia meyakini pemanfaatan teknologi mitigasi GRK akan menurunkan emisi GRK sebesar 544 juta ton CO2e pada tahun 2050 atau sekitar 12 persen terhadap emisi baseline.