Komentari
Berita Anggota Parlemen

Sekolah di Sulut Kekurangan Guru

Problem klasik masih dialami beberapa sekolah di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Saat Komisi X DPR RI berkunjung ke SMKN 6 Manado dan SMPN 7 Manado, kekurangan guru dialami dua sekolah itu. Bahkan, infrastruktur sekolah juga membutuhkan perbaikan.

Anggota Komisi X DPR RI Dadang Rusdiana mengatakan, masalah klasik berupa kekurangan guru dan ruang kelas yang rusak selalu dominan terjadi hampir di semua sekolah di luar Jawa. Mestinya, sekolah harus nyaman bagi para siswa. Di SMKN 6 Manado, misalnya, guru honor lebih dominan daripada guru PNS.

“Kekurangan guru masih menonjol. Yang mengajar lebih banyak guru honorer. Bahkan, guru-guru yang sudah pensiun dikerahkan. Di SMKN 6 Manado tidak ada guru bahasa Indonesia, agama, dan PPKn. Jadi problem besar kita adalah kekurangan guru,” ungkap Dadang, usai peninjauan di Manado, Sulut, Kamis (1/3/2018).

Politisi F-Hanura itu berharap, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) tahun ini bisa kembali membuka rekruitmen guru sekaligus pengangkatan guru-guru honorer menjadi guru tetap si sejumlah sekolah di daerah.

“Mudah-mudahan di Oktober 2018 ini, Menpan RB konsisten membuka seleksi guru dan mengangkat guru berkategori 2 (K2). Betapa di luar Jawa masih banyak persoalan pendidikan yang harus diselesaikan, terutama infrastruktur dan persoalan kekurangan guru,” sambung politisi dapil Jabar II ini. Ruang belajar dan jumlah murid selalu mengalami kesenjangan signifikan.

Di SMPN 7 Manado, ditemukan tak memiliki ruang perpustakaan. Ruangnya digunakan untuk ruang belajar, karena sedang mengalami defisit ruang dan kerusakan infrastruktur sekolah. Ruang kelas yang ada pun bocor dan tidak nyaman lagi digunakan sebagai ruang belajar. Semua ini, ujar Dadang, tentu membutuhkan perbaikan agar sekolah menjadi nyaman bagi peserta didik. 

Diposting 02-03-2018.

Maaf. Hanya User Konstituen yang bisa memberikan komentar.

Dia dalam berita ini...

Dadang Rusdiana

Anggota DPR-RI 2014
Jawa Barat II