Berita Anggota Parlemen

Kenangan Masinton Pasaribu Ikut Rumuskan Isu untuk Aksi 1998

Sudah 20 tahun berlalu dari tragedi berdarah yang menggugurkan empat mahasiswa di Trisakti. Setelah peristiwa itu, gejolak gerakan mahasiswa makin menjadi menuntut wujud Reformasi.

Masinton Pasaribu masih ingat betul detik-detik mendebarkan waktu itu, ketika berdiskusi politik secara terbuka masih terbilang sulit. Masinton merupakan aktivis mahasiswa angkatan 1998.

"Suasana dulu, orang bicara politik itu kan takut. Rezim otoritarian menciptakan ketakutan," ungkap Masinton saat berbincang dengan detikcom, Rabu (9/5/2018).

Orde Baru, sebutan bagi rezim yang berkuasa tiga dekade kala itu, bersikap represif terhadap gerakan politik masyarakat sipil. Bagi Masinton, ini sebuah upaya rezim agar rakyat tak melek politik dan tak mampu mengkritik. Politik dianggap tabu.

"Ciri Orba itu dia di samping antipolitik dan antidemokrasi, Orba ya dia adalah otoritas tunggal yang selalu merasa dirinya benar," ujar Masinton.

Represi selama 32 tahun, kata Masinton, membuat masyarakat akhirnya berani. Keberanian yang terakumulasi itu lalu mencapai puncaknya pada 1998, setelah tersulut pula oleh krisis moneter.

Masinton kala itu aktif di Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi. Salah satu dari banyak elemen mahasiswa pejuang Reformasi.

"Pertama, kita itu intensif merumuskan isu-isu di mahasiswa ya melalui diskusi kan, protes ke jalan. Kemudian membangun jaringan antarkampus, baik antarkampus di tingkatan Kota Jakarta maupun antarkota, antardaerah," tutur Masinton.

Anggota DPR ini dulu adalah salah satu pemuda yang ikut menduduki DPR. Gedung Nusantara atau lebih dikenal Gedung Kura-kura jadi saksi bagaimana mahasiswa dari seluruh Indonesia berkumpul bersama dan satu suara.

"Protes turun ke jalan pada saat itu kalau dimulai dengan mimbar-mimbar bebas di kampus, di dalam lingkungan kampus. Kemudian dari berbagai kampus kita kumpul ke Atma Jaya, jalan ke DPR, long march. Ketika mau turun ke jalan, kampus direpresi, di UNJ kita kumpul, ketika mau jalan direpresi, dibubarin," kata dia.

Ada yang dipukul, ada yang kena gas air mata, kata dia. Masinton sendiri pernah ditangkap oleh aparat.

"Ada yang ditangkap, ada yang dipukulin, ada yang disiram pakai water cannon, ada yang kena peluru karet. Dulu kan semuanya ABRI. Polisi kan masih ABRI. Jadi dulu yang menghadang kita ABRI," kenang dia.

Diposting 16-01-2019.

Maaf. Hanya User Konstituen yang bisa memberikan komentar.

Dia dalam berita ini...

Masinton Pasaribu

Anggota DPR-RI 2019-2024
DKI Jakarta 2