Komentari
Berita Anggota Parlemen

Modal 64 Ribu Suara, Caleg Golkar Muh Yasir Yakin Lolos ke DPR RI Dapil Sulsel 2

Calon anggota DPR RI Dapil Sulsel 2, Muh Yasir, optimistis bisa bersaing dengan caleg Golkar maupun caleg partai lain menuju Senaya pada Pemilu 2019 nanti.

Salah satu tim pemenangan Muh Yasir, M Samsul, mengatakan dengan modal 64.275 suara pada Pemilu 2014 nanti, peluang Muh Yasir patut diperhitungkan lawan politiknya.

“Lima tahun lalu, Bapak Muh Yasir peraih suara terbanyak keempat dari seluruh caleg di Dapil Sulsel 2. Tapi sistem pemilu saat itu tidak menguntungkan sehingga tertunda ke Senayan.

Dapil Sulsel 2 DPR RI meliputi Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Maros, Pangkep, Barru, dan Parepare.

M Samsul yang juga aktivis LSM Tenri Tappu Watampone, Kabupaten Bone menyerukan agar seluruh kader dari organisasinya untuk senantiasa solid dan kompak dalam mengantarkan Muh Yasir menuju Senayan pada Pemilihan Legislatif 2019.

Caleg DPR RI Muh Yasir bersama Aktivis LSM Bone, M Samsul.

Caleg DPR RI Muh Yasir bersama Aktivis LSM Bone, M Samsul. (M Yasir)

"Mulai hari ini pada awal 2019, kami tegaskan kepada seluruh kader LSM Tenri Tappu agar bekerja keras di setiap lokasinya masing-masing. Apapun rintangan yang mengadang, anggota LSM Tenri Tappu siap berjuang agar meraup suara terbanyak pada Pileg 2019 (untuk Muh Yasir)," kata Samsul dalam rilis diterima tribunbone.com, Rabu (16/1/2018).

Tanpa menjelekkan atau menjatuhkan calon legislatif lain, menurut dia, Muh Yasir paling memiliki komitmen dan kompetensi untuk duduk di Senayan.

Samsul yang juga tokoh pemuda Bone menyampaikan Muh Yasir merupakan sosok yang selalu dapat diandalkan. Politikus senior Golkar itu memiliki segudang pengalaman. Muh Yasir juga selalu punya ide dan gagasan cemerlang yang dapat dan layak diimplementasikan.

Dengan sistem penghitungan suara yang baru, Samsul optimistis Muh Yasir akan mengkapling satu kursi di Senayan dari Dapil Sulsel 2.

Pemilu 2014 lalu, perolehan suara personel Muh Yasir 64.275 hanya kalah dari:

A Iwan Darmawan Aras (Gerindra): 91.739

Andi Rio Padjalangi (Golkar): 77.962

Syamsul Bahri (Golkar): 66.519

Perolehan Suara DPR RI Dapil Sulsel 2 Pemilu 2014

Golkar: 373.964 suara (2 kursi)

Andi Rio Padjalangi: 77.962

Syamsul Bahri: 66.519

Gerindra: 271.072 suara (1)

A Iwan Darmawan Aras: 91.739

Demokrat: 180.747 suara (1)

Nasyit Umar: 36.351

PPP 137.320 suara (1)

M Ghalib: 32.915

Andi Mariattang (PAW): 20.466

PAN: 135.876 suara (1)

Taufan Tiro: 54.585

A Yuliani Paris (PAW): 25.027

Nasdem: 113.286 suara (1)

Akbar Faisal: 47.940

PDIP: 112.263 suara (1)

Samsu Niang: 39.122

PKS: 107.095 suara (1)

A Akmal Pasluddin: 33.896

Hanura 90.172 suara

PKB 70.266 suara

PBB 22.683 suara

PKPI 9.171 suara

Suara sah: 1.623.915 suara

Suara tidak sah: 102.361

Total pemilih: 1.726.276

Data KPU RI Diolah Litbang Tribun-timur.com

CARA PENGHITUNGAN PEROLEHAN KURSI DPR RI dan DPRD

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 akan digelar bersamaan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 17 April 2019. Pemilihan legislatif ini akan diikuti oleh 16 partai politik.

Pelaksanaan Pemilu 2019 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika Pemilu 2014 memakai metode BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) dalam menentukan jumlah kursi. Pemilu kali ini akan menggunakan teknik Sainte Lague untuk menghitung suara.

Ini Cara Perhitungan Raihan Kuota Kursi Pileg 2019

Metode ini diperkenalkan oleh seorang matematikawan asal Perancis bernama Andre Sainte Lague pada tahun 1910. Sementara di Indonesia regulasi ini disahkan pada 21 Juli di DPR RI dengan menggabungkan tiga undang-undang pemilu. Yakni :

1. UU 8 2012 tentang Pemilu Legislatif,

2. UU 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu dan

3. UU 42/2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Lantas, bagaimana cara menghitung suara dengan teknik ini?

Dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu, menyebutkan bahwa partai politik harus memenuhi ambang batas parlemen sebanyak 4 persen dari jumlah suara. Hal ini diatur dalam Pasal 414 ayat 1.

Sesudah partai memenuhi ambang batas parlemen, langkah selanjutnya adalah menggunakan metode Sainte Lague untuk mengkonversi suara menjadi kursi di DPR. Hal itu tertera dalam Pasal 415 (2), yaitu setiap partai politik yang memenuhi ambang batas akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil 3,5, 7 dan seterusnya.

Berikut cara menghitung apabila dalam satu daerah pemilihan (dapil) tersedia 6 kursi.

1. Partai A mendapat total 30.000 suara

2. Partai B mendapat 15.600 suara

3. Partai C mendapat 9.000 suara

4. Partai D mendapat 5.000 suara

A. Cara Menentukan Kursi Pertama

Untuk menentukan kursi pertama, maka masing-masing partai akan dibagi dengan angka 1.

1. Partai A 30.000/1 = 30.000

2. Partai B 15.600/1 = 15.600

3. Partai C 9.000/1 = 9.000

4. Partai D 5.000//1 = 5.000

Dengan hasil pembagian itu, maka yang mendapatkan kursi pertama di dapil tersebut adalah Partai A dengan jumlah 30.000 suara.

B. Cara Menentukan Kursi Kedua

Berhubung Partai A sudah menang pada pembagian 1, maka untuk selanjutnya Partai A akan dihitung dengan pembagian angka 3. Sementara Partai B, C dan D tetap dibagi angka 1.

1. Partai A 30.000/3 = 10.000

2. Partai B 15.600/1 = 15.600

3. Partai C 9.000/1 = 9.000

4. Partai D 5.000//1 = 5.000

Maka yang mendapatkan kursi kedua adalah Partai B dengan perolehan 15.600 suara.

C. Cara Menentukan Kursi Ketiga

Untuk menentukan kursi ketiga, maka Partai A dan Partai B akan dibagi dengan angka 3. Sementara Partai C dan D akan dibagi dengan angka 1.

1. Partai A 30.000/3 = 10.000

2. Partai B 15.600/3 = 5.200

3. Partai C 9.000/1 = 9.000

4. Partai D 5.000//1 = 5.000

Maka yang mendapatkan kursi ketiga adalah partai A dengan perolehan 10.000 suara.

D. Cara Menentukan Kursi Keempat

Berhubung Partai A sudah mendapatkan 2 kursi, yakni kursi pertama dan kursi ke tiga, maka selanjutnya Partai A akan dibagi dengan angka 5. Sementara Partai B tetap dibagi angka 3, Partai C dan Partai D masih tetap dibagi angka 1.

1. Partai A 30.000/5 = 6.000

2. Partai B 15.600/3 = 5.200

3. Partai C 9.000/1 = 9.000

4. Partai D 5.000//1 = 5.000

Maka yang mendapatkan kursi keempat adalah Partai C dengan perolehan 9.000 suara.

E. Cara Menentukan Kursi Kelima

Untuk menentukan kursi ke lima, Partai A tetap dibagi dengan angka 5. Sementara Partai B dan Partai C dibagi dengan masing-masing angka 3, Partai D akan tetap dibagi 1.

1. Partai A 30.000/5 = 6.000

2. Partai B 15.600/3 = 5.200

3. Partai C 9.000/3 = 3.000

4. Partai D 5.000//1= 5.000

Dengan demikian maka yang mendapatkan kursi kelima adalah Partai A dengan perolehan 6.000 suara.

F. Cara Menentukan Kursi Keenam

Berhubung Partai A sudah mendapatkan 3 kursi (kursi pertama, ke tiga dan ke lima), maka selanjutnya Partai A akan dibagi dgn angka 7, dan Partai B dan Partai C masih dibagi angka 3 dan Partai D masih tetap dibagi 1.

1. Partai A 30.000/7 = 4.285

2. Partai B 15.600/3 = 5.200

3. Partai C 9.000/3 = 3.000

4. Partai D 5.000/1 = 5.000

Dengan demikian, maka yang mendapatkan kursi ke enam adalah Partai B dengan perolehan 5.200 suara.

Demikian seterusnya.....

Dengan demikian, maka Perolehan Kursi :

Partai A mendapat 3 Kursi

Partai B mendapat 2 Kursi

Partai C mendapat 1 Kursi

Partai D tidak mendapat kursi

Demikianlah Metode Baru (Metode Sainte Lague), Penghitungan Perolehan Kursi yg diterapkan pada Pemilu 17 April 2019.

Diposting 18-01-2019.

Maaf. Hanya User Konstituen yang bisa memberikan komentar.

Mereka dalam berita ini...

Andi Akmal Pasluddin

Anggota DPR-RI 2014
Sulawesi Selatan II

Samsu Niang

Anggota DPR-RI 2014
Sulawesi Selatan II

Andi Taufan Tiro

Anggota DPR-RI 2014
Sulawesi Selatan II

Akbar Faizal

Anggota DPR-RI 2014
Sulawesi Selatan II

Muhammad Nasyit Umar

Anggota DPR-RI 2014
Sulawesi Selatan II