Anggota Komisi XII DPR Arif Riyanto Uopdana mendorong agar pemanfaatan biomassa dalam program co-firing di PLTU Tarahan tidak hanya berorientasi pada capaian teknis, tetapi juga memberi dampak rantai ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Pasokan biomassa, seperti limbah tanaman karet, diharapkan melibatkan warga lokal sehingga mampu menggerakkan ekonomi daerah.
“Yang penting bukan hanya capaian co-firing-nya, tetapi juga bagaimana masyarakat setempat dilibatkan dan merasakan manfaat ekonomi dari rantai pasok biomassa tersebut,” kata Arif saat mengikuti Tim Kunspek Komisi XII DPR melakukan rapat kerja dengan direksi PLTU Tarahan beserta stake holder lain di Lampung, Kamis (5/2/2026).
Dalam kesempatan ini, Politisi F- PDI Perjuang ini juga mengapresiasi kinerja PLTU Tarahan yang telah melampaui target nasional co-firing biomassa. Jika secara nasional pembangkit ditargetkan mencapai minimal 5 persen, PLTU Tarahan tercatat telah mencapai angka 12 persen.
"Kami menegaskan, sinergi antara kebijakan energi bersih, penguatan infrastruktur kelistrikan, dan pelibatan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan sistem ketenagalistrikan yang andal, berkelanjutan, dan berkeadilan di Lampung," ujarnya.
Dari sisi pasokan listrik, Legislator Dapil Papua Pegunungan ini menilai, kondisi kelistrikan Lampung relatif aman karena adanya dukungan pasokan dari Sumatera Selatan yang mengalami kelebihan daya. Meski demikian, perhatian khusus diarahkan pada keandalan jaringan transmisi.
"Kita mengetahui bersama, beberapa tahun lalu Lampung sempat mengalami pemadaman listrik luas (blackout) pada 2024. Peristiwa tersebut menjadi catatan penting terkait perlunya perawatan jaringan transmisi secara berkala, pembaruan teknologi, serta peningkatan kecepatan pemulihan sistem ketika terjadi gangguan," imbuhnya.